Top Social

Kilas Buku: Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa

|


Hickory Dickory dock, The mouse ran up the clock, The clock struck one. The mouse ran down, Hickory Dickory dock...
Anak saya lagi keranjingan nursery rhymes berbahasa Inggris, salah satunya lagu "Hickory Dickory Dock". Dan kebetulan saya punya beberapa buku karangan Agatha Christie, salah satunya (dengan detektif Poirot) berjudul "Hickory Dickory Dock". Lantas saya langsung tertarik, padahal biasanya saya biasa saja dengan cerita-cerita Mbah AC. Bukan tidak suka, lebih tepatnya bukan penggemar berat. Berkat anak saya dan nursery rhymes yg sering dinyanyikannyalah saya kembali tertarik dengan kisah-kisah AC. Dan yang paling penting adalah saya kembali semangat membaca! Yay!

Jadi kasus kali ini ada hubungannya (meski tidak langsung) dengan adik dari Miss Lemon (sekertaris Hercule Poirot), yakni Mrs. Hubbard. Mrs. Hubbard yang sudah kembali dari Singapura dan menjanda, menerima pekerjaan sebagai seorang Ibu Kos di Pondokan Mahasiswa di Hickory Road nomor 26. Sebagai Ibu Kos yang baik ia cukup bisa mengayomi anak-anak kosnya, dan juga si pemilik kos sendiri, Mrs. Nicoletis. Sayangnya ketenangan hidup mereka di Hickory Road harus terusik karena ada kasus aneh. Barang-barang hilang secara misterius. Anehnya barang-barang yang hilang adalah barang remeh temeh kecuali cincin berlian.

Selang kasus pencurian mereda, ada lagi kasus pembunuhan yang menimpa salah satu penghuni kos, dan pemiliknya. Hercule Poirot curiga jika pembunuhan ini ada kaitannya dengan kasus pencurian sebelumnya. Atau malah ada kasus kejahatan yang lebih besar lagi?
***

Saya sangat menyukai cerita AC yang satu ini. Ah, baru kali ini saya menikmati penceritaan misteri dari AC. Apa iya karena kurang lebih ada sugesti dari anak saya, hehe. Tapi yang jelas, saya sangat menyukai serial AC yang satu ini. Dalam cerita kali ini AC menyajikan si pelaku pencurian sekaligus korban pembunuhan dengan pendekatan psikologis. Dia adalah orang biasa saja yang tidak disangka mampu merancang pendekatan cinta dengan kasus pura-pura yang dibuatnya sendiri. Justru hal inilah yang menjadikan Poirot curiga dan mencaritahu siapa dan ada berapa jumlah dalang yang sebenarnya.

AC juga sedikit banyak menyisipkan soal paham komunis yang ketika novel ini dibuat Uni Soviet dan paham komunisnya masih menjadi saingan Amerika Serikat. Namun ternyata kasus ini tidak ada hubungannya dengan paham tersebut.

4 bintang untuk buku ini.

Hickory dickory dock... :)

Data buku

Judul: Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa
Judul asli: Hickory Dickory Dock
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Julanda Tantani
Tebal: 320 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 2013 (pertama kali terbit 1955)

Random Buku dan Film: Ayat-Ayat Cinta

|
Image result for ayat-ayat cinta 1
sumber: kabarmaya.co.id
Menjelang akhir tahun ini ramai diperbincangkan film Ayat-Ayat Cinta 2 yang belum lama rilis di bioskop. Saya sempat bertanya-tanya: Memangnya ada ya novel AAC2?

Saya lupa, ternyata memang ada sekuel AAC1, yakni AAC2. Saya tidak akan membahas bagaimana pendapat saya soal novel dan film AAC2 sebagaimana review lainnya. Saya hanya akan mengenang bagaimana saya dulu menyukai novel AAC1 dan mengapa saya tidak mau menonton film adaptasinya.

Ketika itu tahun 2004, dimana saya masih berusia remaja yang idealis dan sedang mencari jati diri. Sejak SMP saya sudah mengenal majalan An-Nida, lalu berlanjut ke buku-bukuu fiksi terbitan FLP (Forum Lingkar Pena). Kemudian saya mengenal fiksi terbitan Republika; Hafalan Sholat Delisa (Tere Liye) dan Ayat-Ayat Cinta 1 (Kang Abik). Bagi yang sudah terbiasa menikmati buku-buku FLP tentu saja akan mudah sekali menikmati cerita dari Tere Liye dan Kang Abik.

Berkat FLP (kenapa jadi ngomongin FLP terus yak), saya jadi punya laki-laki impian sendiri, yah yg relijius, cerdas, rendah hati, dan plusnya (kalau bisa kaya dan ganteng) hehhe. Maka, ketika aku mengenal Fahri untuk pertama kalinya, aku langsung jatuh hati. Ealah! :D
Fahri adalah ikhwan sekaligus santri yang pernah kutahu. Soalnya sebelum ini aku mengenal karakter ikhwan itu adalah siswa-siswa SMA (anak-anak ROHIS) dan mahasiswa yang ikut UKM LDK. Fahri tidak pernah digambarkan ganteng secara fisik, namun ia sempurna pada hal lainnya seperti kecerdasan (dapat beasiswa di Universitas AL-Azhar, Mesir), sifat dan sikap yang tawadhu, dll.
Maka tak heran banyak perempuan cantik yang kepincut pada Fahri. Termasuk para pembaca yang juga perempuan, hehe. Ada cerita lucu (gak lucu sih sebenarnya). Saya mengenalkan AAC1 pada teman-teman sekamar saya di Asrama Mahasiswa. Lalu kesenangan kepada Fahri dan AAC1 menular pada teman-teman beda kamar, sehingga kami sempat berdiskusi soal AAC1 dan Fahri khususnya dalam rapar lorong. :D

Yah, itulah masa-masa saya menyukai Fahri. Sampai sekarang pun ya masih suka, hanya saja Fahri yang dulu, yang mana ia masih menjadi mahasiswa santri yang apa adanya. Kemudian masuklah tingkat 3 perkuliahan dan AAC1 difilmkan. Entah, saya punya feeling untuk tidak menontonnya supaya tidak merusak imajinasi saya soal Fahri. Saya pun tidak tertarik membaca novel karya Kang Abik lainnya seperti Ketika Cinta Bertasbih. Ya, sejak AAC1 booming, banyak novel sejenis yang diterbitkan entah dari Kang Abik atau dari penulis lain. Tentang pesantren, tentang cintah.

Dan baru-baru ini rilislah film AAC2 yang ternyata memang ada novelnya juga. Saya lupa sangkin lamanya tidak membaca novel-novel beraliran sama. Karena biasanya tokoh dan alurnya tipikal. Sebagai pembaca aku kan bosan. Bagiku cukuplah AAC1 dan Fahri apa adanya.

Beruntung kebosananku menyelamatkanku. Ternyata eh ternyata, menurut spoiler yang bertebaran, kisah Fahri di AAC2 absurd. Fahri telah berubah dari seseorang yang prihatin menjadi cendekiawan sekaligus pengusaha yang berhasil di Skotlandia. Ia menjadi dosen Filologi di the University of Edinburgh sekaligus pengusaha minimarket. Salah satu yang saya kurang paham, mengapa seorang seperti Fahri yang tawadhu harus sholat di depan kelas? Bukankah ia seorang dosen yang seharusnya punya ruangan sendiri (atau setidaknya berbagi dengan kolega satu profesi)? Dan menurut pengamatan saya melalui Google, dekat kampus Edinburgh, ada sebuah masjid Edinburgh. Tidakkah dapat ia sholat di sana? Itu masjid ada di dekat kampus lho. Lagipula ada komunitas muslim juga di kampus. Ah, ya mungkin saja Fahri lagi kepepet harus mengajar dalam rentang waktu yang padat (positive thinking).
Terlepas banyak kisah yang sepertinya jauh dari kenyataan, kisah Fahri merupakan pengharapan dari banyak kaum muda muslim. Fahri adalah impian banyak wanita lintas generasi, budaya, dan agama. Fahri merupakan idola impian yang mewakili generasi muslim, dari sekian banyak idola yang mungkin berasal dari non muslim. Fahri juga merupakan impian dari banyak laki-laki yang ingin sekali seperti dirinya; baik, cerdas, kaya.
Tapi ya yang namanya fiksi kalau terlalu jauh dari kenyataan, bisa bikin pembaca atau penontonnya ilfil kan? Sekarang ini aku sih lebih senang membaca kisah fiksi yang dekat dengan realita pembaca, kayaknya lebih mengena gitu.

Oke, sekian dulu ah nostalgianya. Salam. :)

Kilas Buku: One Small Step Can Change Your Life (The Kaizen Way)

|

Tahun baru akan datang dalam hitungan hari. Sudah pasti suasana penyambutan akan sangat meriah. Tidak hanya pesta, tentunya akan ada resolusi yang diharapkan sebagai pemacu untuk hidup lebih baik di tahun berikutnya. Resolusi adalah daftar pencapaian yang dirasa perlu untuk dipenuhi. Salah satunya yang paling populer adalah menurunkan berat badan, atau memiliki karir dan prestasi yang bagus. Sayangnya, banyak orang yang gagal memenuhi resolusi mereka dengan baik. Bahkan daftar tersebut terus saja sama setiap tahun. Kalau kalian bagaimana? Apakah kalian selalu memenuhi resolusi tiap tahun? Jawab dengan jujur lho ya. :D

Lalu kenapa sih pemenuhan terhadap resolusi kita sering gagal? Jawaban utamanya adalah kita cenderung dengan perubahan secara instant dan sedikit berusaha. Padahal segala sesuatu yang instant cenderung tidak berhasil dengan baik. Itulah mengapa buku ini mengusung konsep The Kaizen Way. Apa sih itu?

Masih ingat filsuf Cina yang bernama Lao Tzu? Ada kutipan terkenal yang berasal darinya, yakni:
"A journey from a thousand miles must begin with the first step."

Iya itu sih udah tahu? Lalu apa sih intinya? Ya, intinya, jika kita ingin berubah, jangan lakukan dengan terburu-buru. Misal, kita ingin berat badan kita turun, lalu nge-gym. Hey, berat badan kita belum tentu turun lho, apalagi kalau nge-gym nya ndak rutin. Ndak usah nge-gym, cukup jalan-jalan aja lima menit sehari namun dilakukan dengan rutin. Hal itu tentu saja lebih efektif daripada olahraga dengan durasi lama namun jarang dilakukan.
Great change is made through small steps:
  • Ask small questions
  • Think small thoughts
  • Take small actions
  • Solve small problems
Semua tips yang ada dalam quote di atas harus dilakukan dengan rutin walaupun dengan durasi yang sangat singkat. Kalau kata buku tulis anak sekolahan: "Practices make perfect." :)
Kalian tinggal pilih saja apa perubahan yang kalian inginkan? Lakukan dengan tahap yang sama, yah tentunya dengan tema yang berbeda sesuai masalahnya. Misal, kalian ingin memiliki hubungan baik, tentu saja yang harus dilakukan adalah peerhatian-perhatian kecil dan positif  yang sering dilakukan. Tanpa disadari hal itu akan membentuk relasi yang kuat.

Pada awalnya saya agak bosan dengan buku ini. Namun saya berpikir kalau ndak dibaca ya sayang, karena suami saya membelinya dengan harga sangat mahal untuk buku saku begini. Kisaran 100-200ribu. Hmm. Biasalah yang namanya buku motivasi suka omdo aja.

Syukurlah Robert Maurer, Ph.D punya banyak pengalaman dengan klien yang memiliki beragam masalah. Maka ia membagi pengalamannya itu dan membuat saya mau tak mau menyetujui apa yang ditulisnya. Saya tidak bisa menuliskan pengalaman-pengalaman itu. Namun intinya tetap sama dengan apa yang saya bicarakan di atas.

Buku ini hanya untuk menganalisa dan menguatkan apa yang menjadi impian kita. Sebisa mungkin kita ingin berhasil daripada gagal kan? Ya toh?

So, sudah siap untuk menyongsong kesuksesan di tahun yang baru nanti? Yuk semangat!

Informasi buku

Judul: One Small Step Can Change Your Life (The Kaizen Way)
Penulis: Robert Maurer, Ph.D
Tebal: Paperback, 228 halaman
Penerbit: Workman Publishing Company, 22 April 2014 (pertama kali terbit 2004)

Custom Post Signature