Top Social

BLOGTOUR: Kilas Buku Ya Allah Aku Rindu Ibu + Giveaway

|
Gambar saya ambil dari irfahudaya.net

Awal

Aku merasa tersisih, Buk. .... Ibuk lebih suka aku bermain sendiri. (hal. 7)

Penggalan kalimat di atas adalah sebagian curahan dari bagian awal ketika sang penulis masih balita. Irfa kecil yang ketika itu masih berumur lima tahun sering merasa cemburu dengan Mbah Uti yang selalu mendapat perhatian dari ibu. Sebagai anak, tentunya sangat membutuhkan perhatian dari ibunya, 100% kalau bisa. Tetapi Mbah Uti sakit dan hanya Ibu yang diinginkan simbah untuk merawatnya.

Irfa tumbuh sebagai anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia tidak suka dengan penjelasan yang terkesan hanya untuk menakut-nakuti, karena justru membuat dogma yang tidak bermakna. Yah, mungkin setiap anak berbeda, dan setiap orang tua pun memiliki pengertian berbeda dalam mendidik anak. Namun saya termasuk salah satu yang setuju dengan sang penulis bahwa tidak boleh asal dalam memberikan penjelasan terhadap anak-anak. Anak kecil adalah manusia cerdas yang sedang bertumbuh, maka apapun yang kita berikan untuknya haruslah baik dan memuaskan logikanya.

Remaja

Irfa tumbuh menjadi remaja yang aktif dan dinamis. Tapi justru hal ini yang membuat hubungannya dengan ibu renggang. Seperti ketika ia tengah aktif sebagai pengurus PRAMUKA sekaligus OSIS, ia ingin sekali totalitas melakukan tugasnya. Sayangnya ibu malah menyuruhnya bantu-bantu mengerjakan pekerjaan rumah, salah satunya adalah mengurus adik. Tapi yah yang namanya remaja seringnya ga mau membantu orang tua. Seringkali lho ya, yang berarti ga setiap remaja punya sifat yang sama.

Gimana ga sebel ya, Buk, nggak mau ngapa-ngapain tuh di rumah. (hal. 44)

Saya paham betul dengan kondisi Irfa. Pada posisi anak, mereka biasanya "tidak mau tahu" dengan hal lain kecuali dirinya sendiri. Mereka menganggap orang tua adalah orang yang super sehingga malah jadi cenderung mengandalkannya dalam segala hal. Sementara itu, orang tua ingin juga sesekali dibantu, walaupun sekedar pekerjaan remeh seperti menjaga adik. Tapi yah kadang orang tua juga sangat menuntut anaknya untuk bisa segala hal, padahal belum mampu. Mungkin hal ini terjadi karena tekanan, apalagi ibu dari Irfa memiliki tiga anak yang belum dewasa.

Dewasa

Semakin besar, Irfa semakin memiliki pemikiran yang baik dan cenderung berbakti kepada kedua orang tuanya. Bahkan kini ia mampu memahami apa yang diinginkan bapak dan ibunya. Bapak? Apa saya belum bilang kalau Irfa sesungguhnya dekat dengan sang ayah?

Novel ini memang bukan hanya tentang ibu, namun juga ayah. Irfa menulis penggalan kenangan bagaimana kehidupannya bersama bapak dan ibu, ketika mereka masih ada dalam keadaan senang dan susah, juga ketika mereka sudah pergi. Ada banyak hal yang belum tersampaikan sehingga Irfa menuliskannya dengan baik dalam buku sederhana ini.

Saya hanya ingin bilang kalau... saya jadi kangen dengan kedua orang tua saya.

Informasi buku:

Judul: Ya Allah Aku Rindu Ibu
Pengarang: Irfa Hudaya
Penyunting: Bitbit Pakarisa
Tebal: 254 halaman
Penerbit: Kana Books, Cetakan pertama, Desember 2016



MAU BUKU INI?


Syaratnya:
  1. Peserta adalah orang Indonesia, dan berdomisili di Indonesia.
  2. Follow akun twitter @fadhilatulip dan @irfahudaya.
  3. Follow blog ini, bisa via blogspot atau email.
  4. Share informasi tentang giveaway ini di media sosial, dengan mention @fadhilatulip dan @irfahudaya ditambah hashtag #YaAllahAkuRinduIbu
  5. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus nama, akun twitter, kota tinggal, dan link share artikel ini di medsos. Pertanyaannya adalah: Apa arti seorang Ibu bagi kalian?

Giveaway ini akan berlangsung pada 20 - 25 Februari 2017. Dan pemenang akan diumumkan pada 26 Februari 2017.

Semoga beruntung ya..  :)

Kilas Buku: Tiga Manula Jalan - Jalan ke Singapura

|


Sebut saja tiga manula yang tinggal dalam lingkungan yang sama. Sanip, orang Betawi asli; Liem, orang Cina yang pandai berbisnis; dan Waluyo, orang Jawa yang suka masuk angin. Mereka bertiga bertetangga dan berteman baik satu sama lain.

Suatu ketika Liem lagi banyak rezeki, Sanip dan Waluyo ikut kecipratan. Liem mengajak Sanip dan Waluyo jalan-jalan ke Singapura. Sebagai orang yang belum pernah ke luar negeri, Sanip dan Waluyo pun norak. Dan di sinilah kelucuan mereka di Singapura dimulai. Sanip dan Waluyo memulai dengan pengamatan sederhana: kalau ternyata di Singapura itu juga ada kucing, pohon, dan tanah. Hehehehe :D

Isinya tidak melulu guyonan. Sebagian besar malah berisi informasi bermanfaat tentang Singapura, mulai dari sejarahnya, peraturannya, hingga hal-hal kecil seperti betapa banyaknya orang Indonesia yang ke Singapura buat belanja. Di sini Benny banyak menyindir bangsa kita (baca: pejabat) yang suka berfoya-foya menghabiskan uang hanya untuk pakaian dan tas saja, sementara di negeri sendiri masih banyak yang kesusahan beli sembako.

Salah satu hal yang membuat saya agak tertohok adalah, tingkah orang-orang yang berwisata ke Universal Studios namun tidak melanjutkan destinasi mereka ke dalam, alias nongkrong di luar saja dan berfoto di depan bola dunia Universal yang terkenal itu. Itu sih saya banget ya. Soalnya waktu itu ga punya budget lebih buat jalan-jalan ke dalam, jadi yah foto aja deh. :D

Buku ini ampuh banget buat menghilangkan stress. Ringan, berisi, dan sangat menghibur.

Informasi buku

Judul: Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura (Extended version)
Pengarang: Benny Rachmadi
Ilustrator: Benny Rachmadi
Tebal: paperback, 122 halaman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia 2013 (pertama kali terbit 2011)

Kilas Buku: Heroes of the Valley

|


Pada masa lalu, terdapat 12 klan pahlawan yang terdiri atas klan Svein, Gisli, Geist, Rurik, Eirik, Hord, Egil, Ketil, Arne, Erlend, Hakon, dan Orm. Mereka dikenal tidak pernah akur satu sama lain. Satu-satunya yang membuat mereka akur adalah keberadaan makhluk Trow.

Trow dikenal sebagai makhluk yang haus darah. Mereka memakan siapa saja, terutama manusia. Mereka hanya datang pada malam hari dan bisa muncul dari dalam tanah. Maka para klan bekerja sama untuk melindungi diri mereka dari Trow. Namun justru itulah yang menjadi masalah: Trow tidak pernah muncul lagi.

Halli, anak bungsu dari klan Svein, tidak punya kelebihan apa-apa dibandingkan kedua kakaknya. Kakak pertamanya sok jagoan, mentang-mentang ia akan menjadi pemimpin masa depan Klan Svein. Kakak keduanya adalah perempuan yang sangat suka berdandan dan mencari perhatian. Sementara Halli sendiri sangat senang mendengarkan kisah-kisah pertempuran lama dan berharap bertemu dengan Trow dan memusnahkannya. Gara-gara ini, ia menjadi pembuat onar nomor satu di desanya. Ia dikenal sangat suka membantah.

Suatu ketika, ia harus dihukum ketika pertemuan klan sedang berlangsung di desanya. Hal itu membuat Halli sebal karena ia tidak bisa terlibat langsung dalam pertemuan penting itu. Untungnya ia bertemu dengan Aud, anak dari klan Arne yang kemudian menjadi temannya.

Sejak pertemuan klan, Halli semakin terlibat masalah. Ia kemudian kabur dari rumah untuk merasakan petualangannya sendiri. Walau tujuan utamanya adalah pembalasan dendam demi kehormatan klannya. Petualangan itu berlanjut ke pencarian kebenaran tentang keberadaan Trow. Meskipun Halli dan Aud sendiri tidak tahu betapa kuatnya sesuatu bernama Trow itu.

Well, ini buku pertama dari Jonathan Stroud non-serial alias stand-alone yang saya baca. Dan saya baru menyadari bahwa genre fantasy yang dibawa Jonathan Stroud sama absurdnya dengan Neil Gaiman dan Terry Pratchet. Walau jujur saya masih lebih suka gaya Stroud yang membawakan cerita dengan ringan dan santai seperti dalam serial populernya Bartimeus dan Lockwood.

Buku ini cocok untuk para pembaca yang menyukai genre dark fantasy seperti saya. :D

Informasi buku

Judul: Sang Pahlawan
Judul asli: Heroes of the Valley
Pengarang: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Tebal: paperback, 488 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011 (pertama kali terbit 2009)

Custom Post Signature