Top Social

Kilas Buku: Best of Jeju

|

Akhir-akhir ini saya memutuskan untuk menjadikan Korea Selatan sebagai salah satu negara keren yang harus dikunjungi. Padahal saya bukan orang yang hobi travelling (karena memang ga punya duit hehe). Mungkin ini pengaruh juga ya dari tayangan layar kaca produksi negeri ginseng itu. Meski saya bukan Korea freak, namun beberapa promosi tentang Korea (termasuk drakor dan reality show) berhasil membuat saya terpesona.

Buku ini merupakan panduan untuk daerah Korea untuk wilayah bagian selatan. Wilayah selatan memiliki pesona Korea yang sangat menarik untuk dinikmati. Jika wilayah utara punya kota-kota modern seperti Seoul, maka wilayah selatan memiliki Pulau Jeju untuk dijelajahi.

Wilayah selatan memiliki beberapa provinsi seperti Gyeongsang, Jeolla, dan Pulau Jeju. Gyeongsang adalah sebuah ibu kota pada masa dinasti Silla. Kini ia memiliki kota-kota utama seperti Busan dan Daegu. Jeolla meiliki tanah paling subur, tidak heran ia memiliki banyak makanan khas yang lezat. Sementara Pulau Jeju memiliki otonomi tersendiri. Banyak budaya yang menarik di pulau ini, salah satunya sistem keluarga yang matrilineal. Kebanyakan perempuan Jeju bertugas mencari nafkah. Mereka disebut dengan Hanyeo atau perempuan laut. Mereka bekerja dengan menyelam ke dasar laut untuk mengumpulkan kulit kerang dan produk laut lainnya. (hlm. 5-6)

Awalnya saya mengira buku ini akan penuh dengan pengalaman (dengan bahasa santai) para penulis ketika mereka berjalan-jalan di berbagai destinasi di wilayah selatan. Ternyata tidak begitu isinya. Ya memang berbagai pengalaman memang ditulis, namun dalam bentuk informasi, sejarah, dan rincian rencana yang pakem. Bahkan tata cara dan alur visa, keberangkatan di bandara, terminal, pelabuhan ditulis dengan sangat terperinci. Jadi saya rasa buku ini benar-benar cocok untuk mereka yang serius terbang ke Korea.

Bagi sebagian pembaca yang mengharapkan tulisan santai ala blogger mungkin akan sedikit merasa bosan dengan buku ini. Jadi sepertinya judulnya agak menipu ya, "Best of Jeju", yang padahal isinya ga cuma soal Jeju, tapi juga provinsi lain di wilayah selatan. Baiknya adalah, buku ini menyediakan segala informasi yang mungkin dibutuhkan untuk para traveler yang ingin melancong ke sana. So, siap ke Korea? Aku sih siap, tapi kalo ada yang mau menyokong hihi.

3 bintang untuk Best of Jeju.

Data buku

Judul: Best of Jeju
Penyusun: D. Rosalina, et al
Tebal: paperback, 292 halaman
Penerbit: Elex Media Komputindo, 19 Juni 2013
ISBN 13: 9786020214054

Kilas Buku: Dilarang Mencintai Bunga-Bunga

|

Teh tawar panas dan sebuah buku alm. pak Kuntowijoyo terletak di hadapan. Seketika saya terkenang momen pertama kali membaca karya beliau, kumcer "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga" sebelas tahun silam. Rasanya tak menyangka dapat memiliki (baca: membeli) kumcer berjudul sama meski dengan sampul dan terbitan yang berbeda. Ketika membaca ulang karya tsb, saya memiliki gairah dan ketakjuban yang sama. Saya pun berpendapat bahwa sebuah karya yang bagus tidak pernah akan membosankan meski berulang kali dibaca.

Siapa yang tidak mengenal alm. Kuntowijoyo? Ah ya, mungkin memang ada beberapa pembaca yang belum mengenal beliau, seperti saya yang juga belum banyak tahu tentang dunia sastra Indonesia. Kuntowijoyo adalah salah seorang sastrawan, sejarawan, sekaligus akademisi yang mumpuni di Indonesia. Ia telah menghasilkan banyak karya sastra dalam bentuk esai, prosa, puisi, cerpen, novel dan drama. Karya beliau yang akan saya ulas di sini adalah kumcer yang judulnya telah saya singgung di atas.
Buku cetakan lama, diterbitkan pertama kali tahun 1992.
Buku inilah yang menjadi perkenalan pertama saya dengan Kuntowijoyo.

Buku ini adalah kumpulan cerita yang terdiri atas sepuluh cerpen. Cerpen yang pertama dan utama disajikan adalah "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga". Cerpen itu pernah memenangkan juara pertama dalam sayembara majalah Sastra pada tahun 1968. Bercerita tentang seorang anak laki-laki yang bersahabat dengan tetangganya, si kakek penikmat tanaman bunga. Banyak yang diajarkan kakek kepada si cucu baru. Bunga digambarkan sebagai perasaan yang halus dan jati diri yang sesungguhnya. Sementara keributan dalam kerja digambarkan sebagai nafsu dunia yang membuat manusia menjadi tamak. Kuntowijoyo menyimpulkan bahwa manusia haruslah mampu menggabungkan kekuatan hati, akal, dan tenaganya untuk mencari kebahagiaan sejati. Terlalu berat pada satu sisi bisa jadi akan memiliki akibat yang kurang baik. Namun pada akhirnya manusialah yang memilih sendiri jalan mana yang akan mereka tempuh.
Malam hari aku pergi tidur dengan kenangan-kenangan di kepala. Kakek ketenangan jiwa-kebun bunga, Ayah kerja-bengkel, Ibu mengaji-masjid. Terasa aku harus memutuskan sesuatu. Sampai jauh malam aku baru akan tertidur. (Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, hlm. 28)
Ada beberapa cerpen yang saya sukai selain satu cerpen di atas, yakni, "Anjing", "Samurai", dan "Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah". Pada cerpen "Anjing", dan "Samurai", Kuntowijoyo menggambarkan kehidupan rumah tangga, khususnya lika-liku pasangan yang baru menikah. Ada campuran perasaan marah, sedih, sebal, kasihan, dan lucu dalam cerita ini, yah laiknya hubungan yang baru bersemi. Saya bertanya dalam hati kalau-kalau proses pengerjaan cerita terjadi ketika si pengarang sendiri belum lama menikah dengan pasangannya. Ya wajar saja jika inspirasi tema keluarga muda menjadi tema utama pada dua cerpen tsb.

Sementara pada cerpen "Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah", memiliki tema yang sama dengan "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga", yakni menceritakan tentang hubungan persahabatan tidak langsung antara seorang kakek dan anak kecil. Gerobak yang dibawa kakek untuk bekerja adalah titik persoalan, namun justru itulah yang mendekatkan ia dengan tetangga barunya (seorang ayah muda) dan anaknya yang kemudian dianggap cucu. Tokoh kakek dan gerobaknya mewakili urusan kerja sekaligus ibadah. Tokoh bapak muda yang juga guru sekolah, mewakili urusan keilmuan. Sementara tokoh balita mewakili kertas putih polos yang siap menerima apapun sebagai asupan hidupnya.

Saya masih ingat, "Gerobak Berhenti di Muka Rumah" juga pernah diadaptasi sebagai film televisi di TVRI dengan Chaerul Umam sebagai sutradaranya. Tokoh-tokohnya diperankan oleh Jerio Jeffry, Berliana Febryanti, dan HIM Damsyik. Rasanya senang sekali sewaktu tahu cerita sebagus ini diadaptasi menjadi tontonan layar kaca.

Secara umum Kuntowijoyo memang selalu memakai tokoh kakek dan anak laki-laki sebagai karakter utamanya. Namun bukan berarti ia tak suka menjadikan perempuan sebagai salah satu karakternya. Malah seringkali perempuan digambarkan sebagai istri yang cerdik dan banyak akal, juga ibu yang pengasih kepada anaknya. Yah walaupun, perempuan juga sering digambarkan sebagai orang yang cerewet setengah mati dan gampang berubah perasaannya. Ah ini yang bikin saya senyum-senyum sendiri, mungkin karena memang begitu adanya ya. 😊

Pada akhirnya, kumcer Kuntowijoyo selalu menggunakan pendekatan sastra profetik untuk menyampaikan pesan. Menurut Wan Anwar (Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, hlm. 8-9), sastra profetik adalah sastra yang mengusung humanisasi (amar ma'ruf), liberasi (nahyi munkar), dan transendensi (tu'minu billah). Itulah yang menjadikan karya-karya Kuntowijoyo selalu enak dibaca. Dan para penggemar sastra Indonesia tentunya tidak akan melewatkan karya yang satu ini begitu saja. Seperti kata Aan Mansyur, ini adalah salah satu kumpulan cerita pendek Indonesia yang harus dibaca setidaknya sekali seumur hidup.

Data buku

Judul: Dilarang Mencintai Bunga-Bunga
Pengarang: Kuntowijoyo
Tebal: 292 halaman
Cetakan: Paperback, Cetakan I, Juni 2016 (Pernah diterbitkan oleh Pustaka Firdaus 1992)
Penerbit: Noura Books
ISBN: 978-602-385-024-2

Kilas Buku: The Heat is On

|

Isabella Manchelli (Bella) adalah seorang perempuan yang bebas dan senang berpetualang. Ia memiliki gaya bohemian, yang tidak suka menetap di suatu tempat. Paham ini juga berpengaruh pada kehidupan cintanya. Ia senang dengan kencan satu malam dan tidak tertarik dengan ide cinta selamanya. Itu hanya karena ia belum menemukan orang yang tepat.

Jacob Madden (Jacob) adalah seorang detektif. Ia adalah lelaki yang teratur dan selalu waspada. Ia menjadi salah satu kencan semalam Bella. Namun sepertinya Bella dan Jacob menyadari kalau hubungan mereka akan berlanjut menjadi kencan setiap malam. Apakah ini akan terjadi selamanya? Apakah akhirnya Bella menemukan pasangan dan kota yang tepat untuk tinggal?

Bella vs Jacob

Awalnya saya curiga kalau cerita ini adalah fanfic untuk twilight. Again? Ow, cukup Fifty Shades of Grey aja yang jadi fanfic twilight. Yah, karena nama tokohnya Bella dan Jacob sih, jadi saya sudah berprasangka buruk saja. Tokoh Jacob (ah, mungkin Jill Shalvis ini beneran suka ya sama Jacob di Twilight) digambarkan begitu maskulin dengan kulit yang gelap. Sementara Bella digambarkan sebagai perempuan yang sangat mandiri (beda dengan di cerita sebelah kan).

Tapi Jill Shalvis adalah pengarang yang handal. Ia berhasil membuat roman yang seksi betulan seksi. Saya suka idenya tentang cerita asmara yang disandingkan dengan pembunuhan. Kasus dibuka dengan pembunuhan salah satu kencan semalam Bella, bernama Seth. Ia tersungkur di dapur pastry tempat Bella bekerja. Selanjutnya penembakan juga terjadi pada hari berikutnya. Hal ini membuat polisi curiga jika semua ini ada hubungannya dengan Bella.

Para pembaca pasti bertanya-tanya apakah detektif Jacob dapat bersikap netral? Karena bisa jadi Bella, si perempuan cantik itu, adalah pelaku penembakan yang sebenarnya.

Kesan

Karena ini adalah novel dewasa, tentunya akan banyak adegan panas antara Jacob dan Bella. Sebagian menarik, namun sebagian terasa membosankan karena terlalu banyak. Jadi ya sebenarnya saya selalu skip bagian itu :D

Ini pertama kalinya saya baca karangan Jill Shalvis. Yang saya bikin takjub, baru kali ini saya membaca buku roman tanpa menghitung jumlah halaman dan tanpa bertanya-tanya kapan cerita akan berakhir. Tiba-tiba saja saya sudah menyelesaikan buku tanpa terasa. Berarti bener-bener page-turner ya :D

OK, karena saya punya kesan yang bagus, maka saya kasih 4 bintang untuk buku ini.

Data Buku

Judul: The Heat is On
Pengarang: Jill Shalvis
Penerjemah: Olyvia Sundari Poerwaka
Tebal: 273 halaman
Penerbit: Elex Media Komputindo, 6 Maret 2017

Custom Post Signature