Top Social

[Blogtour and Giveaway] Perempuan Batih

|


Judul: Perempuan Batih

Pengarang: A.R. Rizal

Penyunting: Misni Parjiyati

Sampul: Suku Tangan

Cetakan: Pertama, Juli 2018

Halaman: 260 hlm

Penerbit: Laksana

Entah siapa nama aslinya, perempuan tua itu selalu dipanggil "Gadis". Dikisahkan ia tengah menyambi berdagang durian saat tim SAR mengevakuasi jenazah keluarganya. Kesedihan yang menggunung sudah tak mampu membuatnya menangis. Baginya semua perih sudah saatnya terkubur bersama gempa dan longsor yang terjadi di kampungnya.

Itulah awal mula Gadis bertemu dengan tokoh Aku yang berprofesi sebagai wartawan. Kisah hidupnya sangatlah menggugah hingga tokoh Aku tertarik untuk membukukannya.

Gadis tidak pernah mengenal bahagia. Sejak kecil ia sudah ditinggalkan orang tuanya. Satu-satunya peninggalannya adalah rumah batu dan mamaknya, Zainun, jika itu dapat dihitung. Dalam masyarakat yang menganut paham matrilineal, Gadis adalah garis utama keluarga. Darinyalah nama keluarga dapat diteruskan. Itulah mengapa ia pantas mendapat kesan sebagai "perempuan batih".

Menurut KBBI daring kata "batih" berarti orang seisi rumah yang menjadi tanggungan. Maka Gadis memang pantas menjadi si penanggung, mengingat sifat dan kerja kerasnya. Sayang, ia harus dijodohkan dengan Darso, seorang lelaki yang hanya pandai mengandalkan jerih payah sang isteri. Yang mampu lakukan hanyalah memberi 4 anak dan pergi merantau tanpa pernah kembali.

Gadis tidak pernah berharap Darso lagi. Keempat anaknya ia didik dengan kemampuannya sebagai ibu. Tapi yang namanya anak-anak, mereka tumbuh atas dirinya sendiri.
"Ia menjadi karena dirinya sendiri." (hlm. 82)


Saya mengagumi Gadis atas kekerasan hidupnya, sifatnya, perilakunya, dan juga pendiriannya. Gadis adalah perempuan tangguh yang sanggup menyentil laki-laki. Memang, novel ini banyak menggambarkan bagaimana sosok laki-laki yang senang berperilaku "take it for granted" dan senang dilayani. Syukurlah Gadis tiada sudi melakukan hal itu pada siapapun yang tak tahu berterimakasih. Ia lebih senang sendiri walau harus makan hati karena sedih ditinggal anak cucu.

Sekali lagi, tangguh. Pandai menempatkan diri. Mampu membaca situasi. Itulah yang ingin diajarkan Gadis kepada para pembaca kisahnya.
"Gadis belajar dari kehidupan. Alam yang membentang, itu mata pelajaran yang tak pernah habis untuk diselami." (hlm. 168)


Saya senang penerbit Diva dengan lini Laksana menerbitkan novel sebagus ini. "Perempuan Batih" adalah jenis novel yang mengambil latar belakang kehidupan perempuan Sumatera Barat. Tokoh Gadis adalah contoh perempuan yang masih memegang teguh tradisi. Konflik datang ketika ia harus dihadapkan pada "culture shock" yang dibawa oleh anak dan menantunya sendiri. "culture shock" itu pula yang menggiringnya sebagai perempuan kesepian di kampungnya. Perempuan yang menjaga keluarga. Perempuan Batih.

Tertarik memiliki sebuah novel "Perempuan Batih" secara gratis? Berikut caranya:

1. Wajib follow twitter @divapress01 dan @laksana_fiction juga @kilasbuku ya hehe. Jika tidak ada Twitter, silakan like fanpage Panerbit DIVA Press atau IG @penerbitdivapress.  Pilih salah satu saja atau mau semuanya juga oke.

2. Share/bagikan postingan kuis ini di media sosial kamu. Jangan lupa sertakan tagar #PerempuanBatih  dan colek @divapress01 dan @Laksana_Fiction juga @kilasbuku . Kalau di FB dan IG, colek saja Penerbit DIVA Press. Pilih salah satu media sosial yang kamu punya saja.

3. Tulis data diri pada kolom komentar 
Nama:
Twitter:
Email:
Tautan membagikan:

4. Dimohon untuk hanya menulis data diri satu kali saja. Kuis ini hanya berlaku untuk peserta yang tinggal di Indonesia atau memiliki alamat kirim di wilayah Republik Indonesia.

5. Kuis berlangsung antara 1-8 September 2018. Pengumuman pemenang insyaAllah Tanggal 9 September 2018. Pemenang dipilih secara acak.

UPDATE
PENGUMUMAN PEMENANG
SELAMAT KEPADA

Nama:Wahid Ryan
Twitter:@wahidryan1

Mohon konfirmasi data diri ke surel kukilasbuku(at) gmail.com
Jika dalam kurun waktu 2x24 jam Sejak 9 September, maka akan Saya pilih pemenang lain. Terima kasih.

Gramedia Kids - Gramedia World Harapan Indah

|

Rabu, 4 Juli, kemarin saya mengajak anak-anak menuju Gramedia Harapan Indah. Tertarik ke sana karena banyak yang bilang ada satu areal yang disebut dengan Gramedia Kids. Bayangan saya tentangnya sudah melambung tinggi, yakni akan banyak spots bermain di sudut-sudutnya.

Saya mencaritahu tentang Gramedia Kids Harapan Indah di berbagai ulasan di mesin pencari. Setiap ulasan positif karena membuat anak menjadi betah diajak ke toko buku. Yup, saya membayangkan Gramedia Kids akan seperti sudut baca anak yang selain menyediakan buku, juga menyediakan permainan yang asyik. Oh ya, sebelumnya saya juga sudah tahu kalau di Gramedia Kids banyak menjual permainan anak seperti boneka dan mobil-mobilan.


Saya berangkat dari rumah pukul 10.30. Sesampainya di tujuan sekitar pukul 10.50, namun area toko masih sepi. Mungkin karena baru buka satu jam sebelumnya.
Tidak menunggu lama, saya langsung masuk ke dalam dan menjelajah dengan tujuan utama mencari Gramedia Kids. Tidak sesuai dugaan, tidak ada tulisan "Gramedia Kids" yang menempel di salah satu area yang saya pikir adalah tujuan awal kami. Tapi sepertinya benar area tersebut adalah Gramedia Kids dengan berbagai mainan terpajang di rak-rak display. Bahkan seperti yang saya lihat di salah satu review, ada peta "ular tangga" tercetak di lantai pintu masuk.


Dengan gembira saya dan anak-anak melanjutkan jelajah. Kembali saya temukan permainan "ciplek gunung" (kalau saya sih menyebutnya dengan nama "bete") tercetak di lantai. Anak saya langsung menghampiri "ciplek gunung" dan merasa takjub dengan angka-angka yang besar.
Setelah puas dengan "ciplek gunung", kami kembali menjelajah ke dalam toko, sambil melihat-lihat berbagai mainan yang dijual. Kami pun kembali menemukan areal bermain yang cukup asyik, yakni meja dan kursi untuk beraktivitas serta perosotan yang terbilang tinggi bagi balita. So, perosotan di sini lebih cocok untuk anak yang tingginya cukup, mungkin usia TK dan SD.

Tidak terlalu lama berada di Gramedia Kids, saya menuju lantai atas. Sepanjang koridor banyak lapak dari pihak lain seperti makanan, minuman, bahkan areal permainan yang boleh dimainkan dengan membayar tiket (asumsi saya seperti itu, karena saya belum sempat masuk dan mencaritahu).

Di lantai atas ada Gramedia toko buku, dan lapak-lapak dari pihak Gramedia sendiri, seperti ATK dan berbagai jenis tas. Saya pikir sepertinya lapak buku yang dijual di Gramedia Harapan Indah sangat kecil dan sedikit, padahal gedung Gramedia sendiri cukup besar. Jika saya bandingkan dengan Gramedia Matraman yang juga punya satu gedung sendiri, sepertinya porsi buku yang dipamerkan di sana juga lebih banyak. Atau mungkin memang banyak hal yang menjadi pertimbangan ya. Kalau Gramedia Matraman kan memang sudah lama berdiri dan sudah banyak yang menjadi pelanggan tetap sejak dulu.


Satu lagi yang saya sayangkan, dan kalau boleh saya usulkan sekalian hehe. Pada area Gramedia Kids, Selain hanya memamerkan mainan, lebih baik pamerkan juga buku-buku anak. Sehingga anak-anak yang berada di sana dapat mencari mainan dan buku kegemarannya sekaligus. Dan setidaknya anak-anak yang tadinya tidak menyukai buku, barangkali akan tertarik membeli sebuah, begitu juga dengan anak-anak yang kurang suka mainan. Strategi pemasaran yang lumayan kan.

Jadi pendapat saya soal Gramedia Harapan Indah, yah lumayan untuk sebuah toko buku. Cuma kurang ramai saja, semoga bisa lebih ramai dan makin ramai ke depannya.
P. S. Sayang sekali saya kurang banyak mengambil gambar. Kapan-kapan kalau ke sana lagi, akan saya tambahkan gambar dan infirmasi terbaru. 

Kilas Buku: Aroma Karsa

|


Saya tidak tahu harus mulai menulis review dari mana.

OK, jadi .....

***
Puspa Karsa adalah sebuah bunga langka. Sangkin langkanya, bunga ini hanya menjadi hiasan dalam dongeng semata. Konon Puspa Karsa memiliki kecantikan yang tiada tara, dan yang utama adalah ranumnya yang membuat haru makhluk manapun yang membauinya. Jarang sekali ada orang yang mengetahui tentang dongeng Puspa Karsa, apalagi memercayainya sebagai vegetasi yang nyata di dunia.

Adalah seorang perempuan pintar dan ambisius bernama Raras Prayagung yang mengetahui  tentang keberadaan bunga itu. Janirah, neneknya, yang memberikan pengetahuan itu lewat dongeng-dongengnya. Suatu waktu ia meyakinkan cucunya itu untuk mendapatkan wujud sebenarnya Puspa Karsa.

Jati dan Suma dipertemukan demi mewujudkan cita-cita Raras dan Janirah. Suma sama sekali tidak menyukai Jati dan terus menerus menentangnya. Sementara Jati malah sebaliknya, meski menghindar ia membuat satu formula demi membuat Suma terkesan. Jati dan Suma, mereka tidak tahu apapun kecuali kesamaan indra penciuman yang tajam. Padahal, kesamaan mereka lebih dalam dari yang mereka tahu. Ada benang takdir yang harus mereka jalani seumur hidup.

Pada akhirnya pencarian Puspa Karsa di Gunung Lawu dibuka kembali. Ekspedisi itu kembali mengulang jalan dan cerita yang sama. Yang membuatnya berbeda di pencarian kali ini adalah adanya Jati dan Suma. Takdir dan kebersamaan mereka yang membuat Puspa Karsa melompat ingin terbebas dari penjaranya.

***
Ini kali kedua saya membaca buku Dee Lestari setelah "Perahu Kertas". Jujur, saya sengaja melewatkan beberapa novel Dee yang best sellers, meskipun banyak yang memberi rating baik. Saya memang mudah sekali terintimidasi dengan cerita yang katanya absurd dan berat. Dan syukurlah saya tidak terintimidasi dengan Aroma Karsa.

Menakjubkan. Bagus. Wajib baca sampai habis. Itu yang saya bilang kepada suami di saat membaca buku ini. Menakjubkan karena tidak sampai dua hari saya berhasil menamatkannya. Padahal, saya mengulik "Aroma Karsa" sambil momong dua anak bayi lho. Saya akui kalau yang satu ini memang sangat page-turning!

Novel ini merupakan perpaduan antara fantasi, sejarah, sains, misteri, dan sebutkan kategori lain yang kalian bisa pikirkan. Ingin saya tepuk tangan atas usaha Dee dengan risetnya. Meskipun ide awal cerita adalah fantasi, banyak penopang yang membuat alur dan karakternya sangat kuat. Saya tidak menemukan plot hole. Ya mungkin karena Mbak Dee sudah melakukan riset dengan sungguh-sungguh.

Tokoh. Saya paling suka dengan Sarip! Well, dialah pemecah tawa saat misteri dalam cerita ini sedang di puncak. Kepolosan sifatnya dan logat Betawinya yang pas membuat saya geleng-geleng. Bang Sarip, tetap semangat! Tetap sahabatan ya Bang sama Anung Linglung. Kalian kombinasi yang OK! Kalo kata Bang Sarip: "Jangan kasih kendor!" (hal. 346)

Oh ya, ada satu tokoh bernama Pak Ganjar yang sepertinya bertugas menjawa vila di Karanganyar. Nama Ganjar yang berasal dari Karanganyar sepertinya mengingatkan Saya pada seorang yang berpengaruh di Jawa Tengah. Hehe.

Soal Puspa Karsa. Entah benar atau tidak, saya percaya dengan keberadaan tanaman dan binatang langka di dunia ini. Mereka ada namun tersembunyi di tempat-tempat yang jarang atau bahkan belum ditembus manusia. Keberadaan mereka adalah bentuk keseimbangan alam, biarkan saja di tempat asalnya.

Soal asmara, saya setuju dengan ucapan Pak Anung: "Tan wenang kinawruhan ng katrsnan, wenang rinasan ri manah juga."  / "Asmara. Tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya." (Hal. 442)
Siapapun yang kasmaran, harus memahami dan siap menanggung kosekuensinya.

Akhirnya, Saya tidak bisa memberikan apapun lagi kecuali 5 bintang. Mbak Dee, Terima kasih telah menulis dongeng ini.

Profil buku:
Judul: Aroma Karsa
Pengarang: Dee Lestari
Penyunting: Dhewiberta
Tebal: 710 halaman
Penerbit: Bentang Pustaka, Maret 2018


Custom Post Signature