Sunday, September 4, 2016

Kilas Buku: The Darkest Minds (The Darkest Minds #1)


Judul: Pikiran Terkelam
Judul asli: The Darkest Minds
Pengarang: Alexandra Braken
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Genre: Fantasi, Distopia, Young Adult
Tebal: 584 halaman
Penerbit: Fantasious, September 2014 (pertama kali terbit 2012)

Sinopsis:
Ketika Ruby terbangun pada ulang tahunnya yang kesepuluh, sesuatu tentang dirinya telah berubah. Sesuatu yang cukup mengkhawatirkan untuk membuat orangtuanya mengunci dirinya di garasi dan menelepon polisi. Sesuatu yang membuat dirinya dikirim ke Thurmond, 'kamp rehabilitasi' milik pemerintah yang kejam. 

Dia mungkin telah selamat dari penyakit misterius yang membunuh sebagian besar anak-anak Amerika, tapi dia dan anak-anak lainnya harus berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih buruk: kemampuan menakutkan yang tidak dapat mereka kendalikan. Sekarang, saat berumur enam belas tahun, Ruby termasuk salah satu anak yang memiliki kemampuan paling berbahaya.Dan ketika kebenaran terungkap, Ruby pun berusaha mati-matian untuk meloloskan diri dari Thurmond.

Tapi, ada pihak lain yang bekerja, orang-orang yang tidak akan berhenti untuk menggunakan Ruby dalam perjuangan mereka melawan pemerintah. Ruby akan menghadapi pilihan demi pilihan yang buruk, yang mungkin akan berarti menyerahkan satu-satunya kesempatannya untuk hidup.

----

Tokoh:
Kita akan bertemu dengan Ruby, si cewek yang jadi tokoh utama di cerita ini. Kemudian Liam, cowok ganteng yang tampak dewasa dan bertanggung jawab. Chubs, yang sangat jago dengan urusan akademik, dan Zu, gadis kecil yang imut.

Yah, tokoh-tokohnya tipikal fantasi banget hehe. Yang tokoh utama cowok selalu digambarkan dengan ganteng, dan jago, Sementara yang cewek, meski mereka kadang digambarkan sebagai itik buruk rupa, tapi nyata-nyatanya banyak cowok ganteng yang suka sama si cewek. Kadang saya pingin banget menemukan satu saja novel luar yang menggambarkan si tokoh utama cowok tanpa mengandalkan fisik semata.

Alur:
Alur yang disajikan maju mundur. Pertama-tama para pembaca akan bertemu dengan Ruby ketika ia masih kanak-kanak. Kemudian cerita akan melompat pada bagian Ruby berada di kamp bersama anak-anak lainnya. Memang di awal agak sedikit membingungkan, mengapa anak-anak harus ditahan di dalam kamp. Kategori anak berdasarkan kemampuannya pun tidak diutarakan secara jelas; apa itu biru, hijau, kuning, merah, dan oranye. Rupanya Braken menjelaskan kemampuan anak-anak ini sambil jalan alias tidak secara khusus menerangkannya dalam satu bab atau paragraf. Namun tetap saja buat saya, kurang jelas. Hehe..

Kesan:
Saya semestinya sadar, bahwa saya kurang suka dengan genre dystopia, baik itu  adult atau young adult. Alasannya sederhana, saya tidak suka berandai-andai tentang dunia yang hancur atau keadaan umat manusia pasca kehancuran dunia, baik akibat perang ataupun wabah. Bagi saya hal itu menyeramkan. Melihat berita peperangan di televisi saja saya sudah muak, apalagi "dipaksa" membayangkan. Dan entahnya, saya selalu membaca genre sejenis ini ketika saya bosan dengan buku bergenre lain. Ya, mungkin saya juga butuh bacaan seperti ini untuk mengingatkan bahwa kehidupan tidaklah selalu berakhir bahagia. *sigh*

3 bintang.

Thursday, August 4, 2016

Kilas Buku: Misteri Kastel Es (Sherlock, Lupin, dan Aku #5)


Judul: Misteri Kastel Es (Sherlock, Lupin, dan Aku #5)
Judul asli: Sherlock, Lupin, & Io: Castello Ghiaccio
Pengarang: Irene Adler
Tebal: 258 halaman
Penerbit: BIP, 2015 (pertama kali terbit 2013)

Ini adalah kisah tentang tiga orang remaja detektif yang bernama Sherlock Holmes, Arsene Lupin, dan Irene Adler. Mereka bertiga bersahabat walaupun tinggal di tempat yang berbeda. Tokoh utama dalam serial ini adalah Irene Adler yang dalam nomor ini sudah mengetahui siapa ibu kandungnya. Ketika ia bertemu wanita yang melahirkannya itu untuk pertama kalinya, ia terpaksa harus berpisah lagi dengannya. Namun ia tidak kesepian karena ada Holmes dan Lupin, kedua sahabatnya yang sengaja berkunjung. Kedatangan Holmes dan Lupin juga suatu kebetulan karena ada kasus aneh yang mereka temukan di sekitar hotel tempat Irene menginap. Mereka bertiga menyebutnya dengan misteri kastel es.

Tokoh-tokoh detektif terkenal selalu memiliki kisah lain yang tidak dikarang sendiri oleh pengarang aslinya. Salah satunya adalah buku anak-anak yang sudah saya baca ini. Dan jujur, baru kali ini saya menemukan tokoh Sherlock, Lupin, dan Irene disandingkan, sebagai sahabat kental pula. Tapi syukurlah, ceritanya ringan dan mudah dicerna, khas anak-anak.

Sherlock Holmes digambarkan sebagai remaja yang jenius dan agak serius. Ia merupakan sosok yang senang menganalisa dan berpikir panjang. Sementara Lupin yang juga anak jenius agak berbeda. Ia cenderung lebih humoris dan santai. Dan Irene, si tokoh utama kita, digambarkan seperti cewek remaja biasanya, sedikit rapuh namun tangguh.

Saya senang dengan buku ini. Cocok untuk dibaca anak-anak yang beranjak remaja, meski tak dipungkiri juga cocok dibaca oleh orang dewasa yang senang dengan bacaan ringan dan menghibur.

4 bintang untuk buku ini.

Monday, July 4, 2016

KIlas Buku: White Fang


Judul: White Fang
Pengarang: Jack London
Genre: Klasik
Tebal: 330 halaman
Penerbit: Gagasmedia, 2014 (pertama kali terbit 1906)

Sinopsis:
White Fang adalah seekor anjing separuh srigala. Dia lahir dan dibesarkan di dalam hutan liar yang banyak memberinya pelajaran hidup yang keras. Hingga pada suatu saat ia bertemu dengan manusia di dalam hutan yang kemudian membawanya ke luar dari alam yang ganas dan liar itu.
White Fang menjadi binatang peliharaan, diajari menjadi seekor anjing yang baik. Meskipun kemudian ia harus berganti tuan, yang menyiksa dan memaksanya menjadi anjing petarung demi memuaskan keserakahan sang tuan.
Namun akhirnya, ia dipertemukan dengan sosok tuan lain yang penyayang, yang memperlakukannya dengan kasih sayang. (goodreads)

-----

Cerita fabel atau tentang binatang selalu menjadi perhatian saya. Entah, saya mudah tersentuh dengan berbagai hal yang berhubungan dengan binatang. Kali ini cerita yang saya baca adalah kisah klasik karya Jack London yang diterbitkan pada tahun 1906. Ceritanya mengenai seekor serigala-anjing. Si White Fang, begitu ia dinamakan, memang bukan murni seekor serigala. Ia berdarah seperempat serigala dan separuh lebih anjing. Ia dibesarkan dalam kehidupan liar yang memaksanya harus berburu dan membunuh untuk bertahan hidup. Karena itulah ia menjadi berbeda dari anjing biasanya.

Melalui White Fang dan ibunya, saya dapat merasakan bagaimana insting dan sudut pandang seekor binatang, khususnya serigala dan anjing. Ternyata betina dalam kelompok serigala itu cukup berkuasa, bahkan melebihi pemimpin kelompok sendiri. Ia dihormati, dihargai, dan bahkan diperebutkan. Sang betina senang dengan seluruh hal itu. Ia menganggap dirinya piala yang memang pantas untuk didapatkan dengan cara yang tidak mudah.

Saya pun dengan mudah dapat merasakan kebingungan White Fang. Wajar ia begitu bingung, karena pada awalnya lahir dan tumbuh menjadi binatang liar, tiba-tiba harus dipaksa menjadi babu dan mengikuti perintah majikan. Perasaan bingung semakin menjadi ketika White Fang harus berpindah majikan dan diperintah hanya untuk bertarung dan dikurung. Sang anjing-serigala ini pun memendam perasaan benci kepada setiap manusia yang ditemuinya, kecuali majikan pertamanya dulu.

Hingga pada akhirnya ada seorang penyayang yang berhasil mengubah insting liarnya menjadi lembut. Walau begitu, yang namanya serigala tetaplah serigala, walau ia separuh anjing.

Jack London sungguh merupakan penulis yang baik. Ia mampu menggambarkan perasaan seekor binatang yang (mungkin) hampir tanpa cela. Kalaupun yang ia gambarkan adalah salah, berarti ia telah berhasil meyakinkan para pembaca tentang "begitulah kehidupan dari sudut pandang binatang" lewat redaksinya yang sederhana namun memikat.

4 bintang untuk buku ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...