Top Social

Kilas Buku: Continental Drift

|
Continental Drift
Author: Russel Banks
Paperback, 448 pages
Published March 13th 2007 by Harper Perennial Modern Classics (first published 1985)

Dari judul, novel ini tampak seperti novel yang menceritakan benua pada zaman es yang kemudian terbelah menjadi benua yang kita tinggali sekarang ini. Ya, memang judulnya pun sama dengan judul film Ice Age 4: Continental Drift. Tetapi ceritanya sama sekali bukan mengenai pemisahan atau retaknya benua.

Dan para pembaca review bertanya: Lalu ceritanya tentang apa?

Russel Banks, sang penulis, membentuk novelnya dengan karakter-karakter yang haus mimpi akan kehidupan yang layak. Ia menggambarkan betapa Amerika adalah kota madu yang selalu menjadi  impian para pengejar mimpi. Dari jauh Amerika tampak seperti berlian yang bekerlap kerlip, semua manusia tergoda untuk menyentuh (jika tidak mampu mengambil) sedikit saja berlian itu dan mencicipinya sesaat. Pada saat yang sama, Banks menggambarkan Amerika tidak selalu membuat para penduduknya hidup makmur, mapan dan nyaman. Para penduduknya sendiri pun masih ada yang merasa belum hidup layak sehingga merasa harus mengais rezeki sekuat tenaga untuk memenuhi standar hidup yang tinggi.

Hal ini dialami oleh Bob Dubois, lelaki yang seharusnya merasa hidup bahagia dengan pekerjaan tetap dan keluarga yang bahagia. Akan tetapi ia merasa menjadi 'a quiet kind of madman who lived his dreams and dreamed his life' (pp. 379). Berkali-kali ia berganti pekerjaan hanya untuk memenuhi standar kebutuhan hidup yang cukup tinggi. Namun sayang ia tidak selalu mujur.

Sementara itu, Banks juga menulis tokoh lain, Vanise Dorsonville, imigran gelap asal Haiti. Ia merupakan salah satu penduduk Haiti yang diam-diam menyebrang menuju Amerika. Bersama imigran gelap lainnya, Vanise bermimpi untuk mengadu nasibnya di negeri adidaya itu. Perempuan itu percaya bahwa Amerika mampu mengubah nasibnya untuk kehidupan yang lebih layak. Disini Banks memamerkan gaya penulisannya yang tidak biasa. Jika untuk cerita Bob Dubois, Banks menulis dengan gaya penceritaan yang terasa natural, namun untuk Vanise Dorsonville, sang penulis lebih senang menggunakan gaya penceritaan deskripsi biasa, tanpa tanda kutip untuk setiap kalimat yang menunjukkan dialog. Sehingga disini saya merasa karakter Vanise tidak pernah nyata. Kalau dianalogikan sebagai jenis film, bab-bab untuk Vanise merupakan bagian dari scene film-film bisu.

Namun secara keseluruhan, novel ini ditulis dengan cukup baik dan brilliant. Unsur budaya dari penduduk Amerika kelas pekerja dan kulit hitam terlihat dari tata bahasa yang dipakai dalam dialog. Seperti contoh; I hafta / Mistah Bob / I ain't / lotsa stuff, etc.

Ya, tata bahasa memang menunjukkan kelas seseorang bukan? Dalam novel ini Banks juga sering menggunakan bahasa Prancis pasar dan sedikit Creole untuk menunjukkan status Vanise yang berasal dari Haiti.

Well, ingin membaca juga? Tidak ada ruginya membaca novel yang menurut saya cukup brilliant seperti Continental Drift. Sayangnya membaca novel ini butuh kesabaran tinggi. Saya sendiri merasa harus banyak skip beberapa lembar dan berusaha mencari inti cerita dengan cara skimming.

Tentang Penulis:
Russel Banks was born in Newton, Massachusetts, The United States
March 28, 1940. He is a member of the International Parliament of Writers and a member of the American Academy of Arts and Letters. His work has been translated into twenty languages and has received numerous international prizes and awards. He has written fiction, and more recently, non-fiction, with Dreaming up America. His main works include the novels Continental Drift, Rule of the Bone, Cloudsplitter, The Sweet Hereafter, and Affliction. The latter two novels were each made into feature films in 1997.
[sumber: goodreads]

Ulasan ini diikut sertakan pada New Author RC oleh Ren, RC English Book oleh bunda Peni dan Baca dan posting bareng BBI klasik kontemporer.
8 comments on "Kilas Buku: Continental Drift"
  1. Kehidupan Bob yang gonta-ganti kerjaan untuk memenuhi standar kehidupan itu sepertinya mirip denganku. Huahahahahah.. Tapi emang pada satu titik kita harus merasa cukup dengan apa yang dipunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. intinya sih terus bersyukur, phie. hehe

      Delete
  2. Sepertinya novelnya berat ya? Bahasa Inggrisnya gampang apa susah mbak? Entah kapan saya bisa tahan membaca buku model kultural seperti ini. Kudu baca pelan-pelan dan menghayati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas termasuk novel berat hehe..
      bahasa inggrisnya gampang2 susah. kadang gampang dan lebih banyak susahnya hehehe

      Delete
  3. amerika itu seperti jakarta deh yaaa...percampuran berbagai budaya, dan penuh org2 yang mengejar impian hihhi...keren bukunya dhil. tapi sepertinya butuh mood yg tepat utk dibaca ya.

    ReplyDelete
  4. nunggu terjemagan ah. Kak dhila mau nerjemahin? #eh

    ReplyDelete
  5. jadi temanya american dreams?
    *sotoy banget penyederhanaannya ^^v

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature